CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Supported by

Kamis, 07 Mei 2009

"The 5 PANDAWA"

pernah satu hari aku jalan2 sm tmen2 ke seputaran malioboro...awalnya kami berniat buat refreshing skalian liat2 barang antik karna emang di malioboro biasanya barang2 seperti ini bisa ditawar setengah harga...ya maklumlah anak kost, duitnya pas2an..paling seneng sama yang setengah harga ato sama yang gratisan hehehe.

karena emang dari awal berniat iseng, maka masuklah kami ke dalam salah satu toko batik yang emang udah punya nama di jogja....sementara melihat2 baju, tiba-tiba konsentrasi ku terpusat sama salah satu katalog T-shirt yang di pajang...awalnya sih tertarik karna jarang-jarang ada orang yang pake baju kaos warna item tapi gambarnya wayang, biasanya kan orang2 senengnya pake kaos item yang gambarnya grup band ato yang lain2..naaah berhubung lg ga ada duit, akhirnya terpaksa aku harus nunggu bulan depan buat beli tu kaos...beberapa kaos gambarnya wayang-wayang yg ada di cerita pewayangan jawa, contohnya pandawa lima ato punakawan DLL, dibawah sablonan gambarnya ada tulisan-tulisan yang menceritakan tentang tokoh-tokoh yang ada di gambar...dengan tidak sengaja rasa penasaranku semakin menjadi-jadi setelah baca-baca katalog tadi, aku malah jadi pengen tau gimana sih cerita pewayangan jawa, trus siapa aja sih tokoh-tokohnya...kaya' nya keren tuh kalo aku bisa tau...

aku akhirnya nemu satu alternatif..kalo emang pngen tau pewayangan harusnya aku nonton wayang dong?! tapi aku mikir2 lagi..aku kan ga ngerti bahasa jawa apalagi bahasa jawa yang halus, sementara dalang kan pake bahasa jawa krama inggil...setelah mikir2 aku nemu satu alternatif lagi...nanya sama "mbah google"...kira-kira setelah bertapa bersama mbah google, ini yang aku dapet :

Panca Pandawa

Yudistira

Yudistira merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjel maan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh), dan Bhārata (keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga. Memiliki nama lain Puntadewa.


Bima
Bima merupakan putera kedua Kunti dengan Pandu. Nama bhimā dalam bahasa Sansekerta memiliki arti "mengerikan". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada senjata gadanya bernama Rujapala dan pandai memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara. Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca, turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira. Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal dan mendapatkan surga. Memilki nama lain Brantasena, dua putra yang lain selain Gatotkaca ialah Antareja dan Antasena.

Arjuna
Arjuna merupakan putera bungsu Kunti dengan Pandu. Namanya (dalam bahasa Sansekerta) memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah – karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga); Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putera Pritha alias Kunti). Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan mencapai surga. Nama lain Janaka, senjata utama ialah panah Pasopati.

Nakula
Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

Sadewa
Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Pandu yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.

ternyata indonesia juga punya tokoh-tokoh superhero seperti pandawa lima yang sifatnya ga beda jauh sama superhero2 luar negri...selain padawa, masih banyak lagi tokoh-tokoh wayang yang lain....Mungkin sementara ini segini dulu yang bisa aku dapet...HIDUP INDONESIA!!! MERDEKAA!!

2 Bloody comment..:

opotangkring mengatakan...

benar sekali bung rijal, indonesa tu sebenarnya punya budaya sendiri yang gak kalah ma bangsa lain, cuman sayangnya kita jarang yang mengambil pelajaran dari sejarah bangsa sendiri, apa-apa luar negri,huh dah basi...
kayaknya emang perlu tuh cerita kita diangkat jadi film2 bermutu, gak hantunya aja mulu...

Anonim mengatakan...

Saya gemar wayang karena jaman kecil dulu ortu punya komik Mahabharata, Bharatayudha, & Pandawa Seda karya RA Kosasih. Buku2 tsb sudah lama hancur (maklum anak2), tapi barusan saya koleksi lagi yang baru karena diterbitkan ulang. Saya rekomendasikan komik2 tersebut bila ingin tahu lebih banyak tentang wayang. Buku 'Anak Bajang Menggiring Angin' juga bagus, kisahnya tentang Ramayana. Waktu SMP dulu di perpustakaan ada beberapa buku serupa dan saya suka semua, sampai hapal bentuknya wayang kulit, padahal saya bukan orang Jawa.